Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid, via dpr.go.id

Kebutuhan internet yang meningkat selama masa pandemi Covid-19 harus dijadikan momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi lagi pemerataan jaringan telekomunikasi.

“Kita enggak pernah membayangkan anak-anak belajar semuanya dari rumah meskipun dari dulu sudah ada home schooling,” ujar Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid, dalam seminar virtual bertajuk “Pemerataan Jaringan Telekomunikasi dalam Menyongsong New Normal” di Jakarta, Rabu (10/6/2020) dikutip dari cyberthreat.id.

“Tapi, kita enggak membayangkan anak-anak harus belajar, guru-guru  di berbagai daerah juga harus belajar melalui online, itu juga hal yang baru.”

Dengan kondisi seperti itu, “Kita juga sadar bahwa internet sangat diperlukan, berarti infrastruktur juga harus bagus untuk memenuhi kebutuhan itu,” ujar Meutya.

BACA JUGA  BlackBerry Messenger Pamit, Berhenti Total 31 Mei 2019

Menurutnya, pemerintah harus mulai dengan pemerataan infrastruktur, baru bicara kecepatan jaringan internet.

“Infrastruktur harus merata karena kita ingin berkomunikasi tidak hanya dengan keluarga kita, tetapi juga rekan, sahabat, sodara kita, baik itu di Papua, di Aceh, di daerah Sulawesi, Sumatera, dan sebagainya,” kata dia.

Dengan infrastruktur teknologi yang memadai, kata dia, membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan teknologi. Masyarakat bisa memakainya untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelatihan.

“Peluang untuk melakukan usaha adalah hak yang memang harus diberikan secara rata sehingga infrastruktur itu penting,” ujar dia.

Literasi Digital

Seiring pembangunan infrastruktur, perlu juga dilakukaan “pemerataan literasi digital”. Karena, menurut dia, menjadi sia-sia jika infrastruktur dibangun, tetapi pemanfaatan internetnya tidak tepat guna.

BACA JUGA  Lebih Hemat Kuota Saat ber-Instagram di Perangkat Android

Masyarakat mesti difasilitasi untuk memahami platform teknologi digital. Jangan sampai, kata dia, internet dipakai untuk penyebaran hoaks, mengadu domba, menyebarkan pesimisme, dan memecah belah persatuan bangsa.

Hal-hal seperti itu, menurut dia, sangat cepat menyebar di media sosial. “Nah itu yang harus kita hindari. Makanya literasi digital juga tetap menjadi sangat penting,” ujar Meutya.

TINGGALKAN SEBUAH KOMENTAR

Harap masukkan komentar anda!
Harap masukkan nama anda di sini